Jatuh bangun dalam menjalani hidup sebenarnya adalah hal yang biasa terjadi dalam kehidupan. Hanya saja, terkadang kita terlalu banyak mengeluh dan kurang bersyukur atas segala nikmatNya sehingga kita merasa beban kita terlalu berat. Tak bisakah kita belajar dari orang lain yang mencoba bertahan hidup meski kesulitan menghimpit mereka?
Gambar di samping ini adalah contoh seorang wanita kuat dan perkasa yang ingin saya tampilkan profilnya. Seorang buruh gendong ( endong-endong dalam bahasa jawa) di pasar Beringharjo. Para endong-endong tersebut adalah objek penelitian saya ketika saya menulis skripsi (Puji Tuhan, Lulus mbok!). Mereka berada di bawah naungan Yayasan Annisa Swasti (Yasanti) di Yogyakarta yang sudah berdiri selama 28 tahun untuk melakukan pendampingan terhadap para endong-endong demi penguatan (kualitas hidup) menuju kemandirian perempuan. Penguatan yang dimaksud di sini adalah penguatan untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan baik dari segi ekonomi, sosial maupun politik.
Sebagian besar endong-endong yang aktif bekerja berumur 20 tahun – 60 tahun. Dalam sehari mereka bisa menggendong barang seberat 80 kg – 100 kg sebanyak 5 sampai 6 kali menggendong barang mondar-mandir. Tetapi ada juga beberapa endong-endong yang berumur 60 tahun masih merasa produktif, dalam artian masih merasa mampu menggendong dan menghasilkan uang dari hasil gendongannya. Bagi mereka usia bukan halangan untuk bekerja selama mereka merasa masih kuat untuk menggendong.
Dengan penampilan yang bersahaja dan hanya bermodalkan jarit (selendang), mereka dengan sepenuh hati menjalani profesi ini, dimulai dari pukul 6 pagi endong-endong mengangkut barang belanjaan baik dari pemasok maupun pembeli yang berbelanja di pasar Beringharjo seperti beras, sayuran, brambangan (bawang merah), makanan (emping, peyek, kerupuk) dan lain-lain. Namun, pendapatan yang mereka dapatkan dalam sehari kadang tidak mencukupi kebutuhan mereka. Setiap kali menggendong mereka hanya dibayar Rp 1.000,00 – Rp 1.500,00. Hal ini menjadi salah satu persoalan yang mereka hadapi tetapi pekerjaan ini tetap mereka pilih dan mereka nikmati. What a great woman!
See? Memang tak mudah untuk bertahan dalam kondisi sulit. Satu hal yang bisa kita petik dari kehidupan endong-endong yang hidup bersahaja adalah selalu bersyukur atas segala nikmat dan berkatNya yang telah kita terima dan jangan lupa untuk berbagi dengan sesama. Selamat berjuang!
